Memaknai kartu merah

17 02 2010 dibabak perdelapan final Ac menjamu juara Liga Champion 2008 di stadion San Siro, Milan mengawali pertandingan dengan apik, menit ke 3’ Ronaldinho sudah membuat timnya unggul 1-0 lalu Milan langsung bereaksi dengan gol semi keberuntungan veteran MU Paul Scholes menit ke 36’. Dibabak kedua , kedua tim saling menyerang. Berkat kejeniusan dan kecerdikan rooney yg berhasil mengelabui bek-bek Milan untuk meletakkan bola ditiang jauh sisi kiri gawang dida, berbalik MU yg unggul 2-1, sekali lagi rooney menunjukkan kehebatannya dengan melepaskan diri dari jebakan offside pemain belakang Milan, unggullah MU 3-1, Milan makin tenggelam. Setelah ketinggalan Milan dengan gencar mencecar gawang MU, akhirnya gol yang ditunggu publik San siro akhirnya terwujud oleh Clarence seedorf dimenit-menit akhir yang merubah kedudukan menjadi 3-2, skor tsb bertahan sampai laga usai. Sebenarnya bukan cerita diatas inti tulisan saya ini, kalau mau lengkap bisa baca di portal2 olah raga, bisa lebih lengkap.

Tapi ada sedikit kisah diatas terkait sikap Michael Carrick perihal dikartumerahkan dirinya (2 kartu kuning) dia tidak terlalu berlebih-lebihkan dalam menanggapi atau memprotes wasit,dia legowo dia menerima, walaupun sebenarnya kesal tidak ada dorong2 wasit, tidak ada provokasi.

Saya tergelitik untuk membandingkan pertandingan-pertandingan di Indonesia Super League (ISL) antara Persisam Putra Samarinda melawan Persija . Diakhir pertandingan, persiba berhasil menceploskan gol, tapi dianulir wasit karena dia melihat pemain periba Fandi Mochtar hands ball tapi pemain persiba bereaksi secara ekspresif, keras, disertai mendorong-dorong badan wasit. Kelihatan disini bahwa kedewasaan menerima keputusan wasit tidak ada.

Itulah potret dua perbandingan sepakbola yang keduanya kebetulan saya tonton, satu terjadi di negeri sendiri, yang satu lagi terjadi di negeri pizza. Sepakbola Indonesia sudah terbisa protes dengan cara mendorong-dorong badan wasit, mengejar, memukul, mengintervensi sebagai bagian dari bentuk protes. Bukan berarti saya menjelek-jelekkan ajang sepakbola tertinggi di Indonesia ini, tapi emang berita kerusuhan selalu mengemuka di media, kira-kira begitulah kenyataannya. Tapi saya punya optimisme sepakbola Indonesia akan maju, saya menginginkan sepakbola Indonesia maju terus, mulai dari juara piala Tiger (tingkat asean), piala Asia, atau yg paling tinggi piala dunia pun bisa kita raih, tapi bukan dengan cara jadi tuan rumah piala dunia, saya ngga mau dari jalur yg gratis, tapi dari jalur prestasi lebih membanggakan, ngapain ngemis-ngemis jadi tuan rumah piala dunia 2022….

Seharusnya siaran langsung AC Milan vs Manchester United tadi malam bukan hanya dijadikan sekedar tontonan tapi juga menjadi sebuah pelajaran untuk menyikapi suatu hukuman, keputusan atau sebuah anulir yg beralasan oleh wasit pertandingan, atau kita malah senang tidak ada wasit dilapangan, kurang seneng dikit, maen hajar aja, apa itu yg dimau??

Bergeser kearah yang lagi hangat sekarang yaitu kasus Bailout bank Century, cukup menyita perhatian masyarakat, ada 4 proses yang digodok di pansus Century 1. Merger 2. FPJP 3. Bailout dan 4. Aliran dana, pansus century udah masuk ketahapan 4, berarti sudah mau memasuki tahap akhir dari pansus. Setelah diproses 1,2, dan 3 skornya 7-2, untuk ke 4 semuanya menyatakan sama pendapat jadi semua fraksi menyetujui ada masalah dialiran dana, skor berubah menjadi 9-0, apapun hasil pansus dengan tawar-menawar politik kentalnya itu, publik juga menunggu gimana akhir dari kasus bank century, hanya panas diawal, melunak belakangan seperti pansus yang sudah-sudah. Kalau hasil pansus menunjukkan ada kesalahan kebijakan dari pengambil kebijakan, siap-siaplah si pengambil kebijakan akan dikartu merah oleh proses hukum (yg mekanisme saya tidak mengerti), dan yang dikartu merah harus legowo, tapi kalau yang bermasalah hanya dialiran dananya saja, ya pengambil kebijakan siap-siap dikartu kuning atau apalah supaya jera (kembali saya juga ga ngerti hukum).. benang merah yang saya ambil dari kejadian diatas adalah kalau kita dinyatakan salah oleh pengadil proteslah dengan sewajarnya, ikuti mekanisme nya, jangan kasar-kasar…

Toh pengadilan sesungguhnya akan kita pertanggungjawabkan ‘disana’

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.